REVIEW JURNAL "PERANCANGAN SISTEM DIAGNOSA INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) BERBASIS WEB DENGAN METODE FORWARD DAN BACKWARD CHAINING PADA RSUD DR. SARDJITO YOGYAKARTA"



1. Judul
PERANCANGAN SISTEM DIAGNOSA INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) BERBASIS WEB DENGAN METODE FORWARD DAN BACKWARD CHAINING PADA RSUD DR. SARDJITO YOGYAKARTA
2. Abstrak
Infeksi menular seksual (IMS) yaitu infeksi menular seksual yang melakukan hubungan, baik dengan pasangan yang telah terinfeksi, dan mereka yang sering memiliki beberapa pasangan seksual. Menurut Informasi WHO Fact Sheet Nomor 110 pada Juli 2011,memperkirakan bahwa 448 juta kasus baru dapat disembuhkan IMS (sifilis, gonore, klamidia dan trikomoniasis) terjadi setiap tahun di seluruh dunia pada orang dewasa berusia 15 - 49 tahun. Ini tidak termasuk HIV dan IMS lain yang terus mempengaruhi kehidupan individu dan masyarakat di seluruh dunia.
Oleh karena itu diperlukan untuk mengembangkan sistem yang disebut sistem pakar. pakar ini sistem dibangun dengan menggunakan forward chaining dan backward chaining berbasis website. Ini sistem pakar bukan untuk menggantikan fungsi dokter, tetapi hanya digunakan sebagai suplemen dan alat-alat yang masih terbatas, karena program diagnosis IMS hanya bertindak dalam penasihat atau kontra ultative dan bukan hanya sebagai dokter yang bisa mendiagnosa penyakit dengan tindakan atau gerakan.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat, terutama orang-orang dengan IMS dan untuk mahasiswa kedokteran atau dokter junior dalam membuat diagnosis IMS bertindak dan memberikan solusi pengobatan.
Kata kunci: Sistem Pakar, Infeksi Menular Seksual, Forward Chaining, Mundur Chaining.

3.Pendahuluan
Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang menular lewat hubunga seksual, baik dengan pasangan yang sudah tertular, maupun mereka yang sering berganti-ganti pasangan. Menurut WHO Information Fact Sheet No 110 August 2011, 499 juta infeksi baru dapat disembuhkan menular seksual (sifilis, gonore,klamidia dan trikomoniasis) terjadi setiap tahun di seluruh dunia pada orang dewasa berusia 15-49 tahun .Angka-angka ini tidak termasuk beban kesehatan tambahan yang disebabkan oleh HIV dan IMS virus lainnya seperti HSV.Beberapa infeksi menular seksual terjadi tanpa gejala.
Pada wanita hamil dengan sifilis awal yang  tidak diobati, 21% dari kehamilan menghasilkan kelahiran mati dan 9% dalam kematian neonatal.Infeksi menular seksual merupakan penyebab utama infertilitas pada pria dan wanita.Resistensi obat,terutama untuk gonore, adalah ancaman utama bagi pengendalian IMS global.IMS dapat meningkatkan risiko HIV akuisisi tiga kali lipat atau lebih.
Untuk itu pentingnya dibangun suatu sistem yang disebut sistem pakar. Sistem pakar yang dibangun ini bukanlah untuk menggantikan fungsi dokter, akan tetapi hanya digunakan sebagai pelengkap dan alat bantu yang masih terbatas, karena program diagnosis IMS ini hanya bertindak sebagai penasehat atau konsultatif dan tidak seperti halnya seorang dokter yang dapat mendiagnosis penyakit dengan suatu aksi atau gerakan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat khususnya penderita IMS dan bagi mahasiswa kedokteran atau dokter muda dalam melakukan tindak diagnosis terhadap penyakit IMS.

4. Ringkasan Jurnal
Tujuan : Membuat Sistem pakar diagnosa infeksi menular seksual berbasis web dengan metode forward dan backward chaining , untuk membantu mendiagnosa IMS dan dapat membantu masyarakat dan bagi mahasiswa kedokteran dan dokter muda dalam melakukan tindak diagnosisi terhadap penyakit IMS serta dapat digunakan sebagai pelengkap dan alat bantu rumah sakit yang masih terbatas.
            Peneltian ini menggunakan sistem pakar (Expert System).
Definisi Sistem Pakar
Sistem pakar adalah sistem berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dalam bidang tersebut.
Konsep Umum Sistem Pakar
Turban (1995) menyatakan bahwa konsep dasar dari suatu sistem pakar mengandung beberapa  unsur/elemen,yaitu  keahlian,  ahli,  pengalihan  keahlian, inferensi, aturan dan kemampuan menjelaskan.
Konsep Arsitektur Sistem Pakar
Sistem pakar disusun oleh dua bagian utama, yaitu lingkungan pengembangan (development enviroment) dan lingkungan konsultasi (consultation enviroment) (Turban,1995)  3.  Komponen - komponen  sistem  pakar  dalam  kedua bagian tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut ini:

Komponen-komponen penting dalam sebuah sistem pakar

Konsep Dasar Infeksi Menular Seksual
Sejarah Infeksi Menular Seksual
Pada    waktu    dahulu    penyakit    kelamin    dikenal    sebagai Veneral Diseases(V.D.) yang berasal dari kata Venus (dewi cinta), yang termasuk dalam veneral   diseases ini.Yaitu sifilis,   gonore,   ulkus mole,   limfogranuloma venereum dan granuloma inguinale. Ternyata pada akhir-akhir ini ditemukan berbagai penyakit lain yang juga
dapat timbul akibat hubungan seksual dan penemuan ini.

Oleh  karena  itu  istilah  V.D.  makin  lama  ditinggalkan  dan  diperkenalkan istilah Sexsually  Transmitted  Diseases (S.T.D.)  yang  berarti  penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan kelamin dan yang termasuk penyakit ini adalah kelima penyakit V.D. tersebut ditambah penyakit lain yang tidak termasuk V.D.  Istilah  S.T.D. ini  telah  diindonesiakan  menjadi  I.M.S.  (Infeksi  Menular Seksual),  ada  pula  yang menyebutnya  P.H.S.  (Penyakit  Hubungan  Seksual). Sehubungan  IMS  ini  sebagian besar  disebabkan  oleh  infeksi,  maka  kemudian istilah  S.T.D  telah  diganti  menjadi S.T.I.  (Sexually  Transmitted  Infection)  atau IMS (Infeksi Menular Seksual).
                                          
Definisi Infeksi Menular Seksual
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang menginfeksi bagian tubuh manusia melalui kontak seksual.
Faktor Resiko Infeksi Menular Seksual
1.Pasangan seksual > 1 dalam 1 bulan terakhir
2.Berhubungan seksual dengan penjaja seks dalam 1 bulan terakhir
3.Mengalami 1/ lebih episode IMS dalam 1 bulan terakhir.
4.Perilaku pasangan seksual berisiko tinggi.
Gejala Umum Infeksi Menular Seksual
Pada laki-laki gejala IMS antara lain :
1.Bintik-bintik berisi cairan, lecet atau borok pada penis/alat kelamin.
2.Luka tidak sakit, keras dan berwarna merah pada kelamin
3.Ada kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam.
4.Rasa sakit pada saat kencing
5.Rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin
6.Kencing nanah atau darah
7.Bengkak, panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi borok atau luka.
8.Kehilangan berat badan secara drastis, diare berkepanjangan dan berkeringat saat malam.

Pada wanita gejala IMS antara lain :
1.Rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual.
2.Rasa nyeri pada perut bagian bawah.
3.Keluar lendir pada v agina
4.Keputihan tidak seperti biasanya, baik dari humlah atau warna yang kekuningan, kehijauan, putih susu dan terasa gatal dan berbau.
5.Timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seks.
6.Bintik-bintik berisi cairan, lecet atau borok/luka pada alat kelamin.
7.Ada kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam.

5. Tinjauan Pustaka
Beberapa  penelitian  yang  menggunakan  sistem  pakar  untuk  mendiagnosa Penyakit Menular Seksual (PMS) atau yang  sekarang lebih dikenal Infeksi Menular Seksual (IMS) telah dilakukan, antara lain:
Novrido   Charilbaldi,   Nur  Indra   Septyorini   dan   Hafsah   dari   Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (2005) dalam jurnalnya yang berjudul Sistem   Pakar   Untuk   Membantu   Diagnosa   Penyakit   Menular   Seksual   (PMS) menggunakan  metode frame yang dalam  proses  pencocokan  akan  dibentuk  dua bagian, yaitu pada bagian pertama berisi pola aturan, bagian kedua berisi nilai-nilai dari setiap  slot frame objek  yang  akan  dibandingkan,  kemudian  akan  dilakukan proses pencocokan  pada  semua frame bagian  kedua  yang  dibandingkan  dengan bagian yang pertama. Bahasa pemrograman pada aplikasi ini yakni Visual Basic.
Rizky  Noraningtyas dari  Universitas  Diponegoro  (2010)  dalam  skripsinya Aplikasi Sistem Pakar Mendiagnosis Penyakit Menular Seksualmenjelaskan sistem 2pakar yang dibuat bertindak sebagai penasehat atau konsultan.Aplikasi sistem pakar ini dibangun dengan menggunakan mesin inferensi forward chainingdan backward chaining sertadikembangkan  menggunakan  bahasa  pemrograman  Microsoft  Visual Basic 6.0 serta menggunakan basisdata Microsoft Access 2003.
Berdasarkan  beberapa  penelitian  diatas dapat  disimpulkan  sistem  pakar diagnosa Infeksi Menular Seksual (IMS) yang dibangun masih berbasis desktop dan bahasa pemrograman yang sama yakni Microsoft Visual Basic.  Sedangkan  sistem pakar yang dibangun oleh penulis berbasis  web dengan bahasa pemrograman  PHP  dan  MySQL  sebagai  databasenya.  Sistempakar  ini menggunakan metode inferensi forward dan backward chaining.

6.Pembahasan
Analisis
Tinjauan Umum
Gagasan mendirikan Rumah Sakit Umum dan Pendidikan pada satu lokasi guna pendidikan calon dokter dan dokter ahli serta untuk pengembangan penelitian, pertama kali dicetuskan oleh Prof. Dr. Sardjito pada tahun 1954, dan karena  dirasakan pula adanya kebutuhan mendesak perlunya Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) guna mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta Jawa Tengah Bagian Selatan.
Analisis Sistem
Analisis sistem (system analysis) dapat didefinisikan sebagai penguraian
dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untukmengidentifikasikan dan mengevaluasi permasalahan, kesempatan,hambatan - hambatan yang terjadi dankebutuhan - kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya.

Perancangan Sistem
Representasi Pengetahuan
Pengetahuan
Sumber  pengetahuan  sistem  pakar  ini  terdiri  dari  data  penyakit  Infeksi Menular Seksual beserta definisi, gejala atau penyebab dan sarannya diperoleh dari   hasil  wawancara   dengan   dokter   RSUP   dr.   Sardjito   dan   buku   yang direferensikan oleh dokter.
Mekanisme Inferensi
Inferensi Diagnosis
Sistem pakar ini menggunakan dua mekanisme inferensi runut maju (forward chaining) dan runut balik (backward chaining) sekaligus. Runut maju (forward chaining) digunakan untuk menentukan calon-calon jenis penyakit yang
mungkin diderita oleh pasien berdasarkan keluhan yang dimasukkan oleh pasien.
Setelah diketahui daftar jenis penyakit IMS yang menjadi calon konklusi, dilakukan runut balik (backward chaining) guna mengetahui gejala yang dialami oleh pasien dan dihitung menggunakan metode perhitungan probabilitas berbobot untuk menentukan tingkat kemungkinan jenis penyakit yang dialami pasien.Penentuan penyakit dilakukan dengan memilih diantara konklusi yang memiliki probabilitas tertinggi.






1.Algoritma Diagnosa Penyakit IMS

Algoritma Sistem Diagnosa


2.Rumus Diagnosa Jenis Penyakit IMS

3. Contoh Kasus Diagnosa Penyakit IMS
Diberikan  sebuah  contoh  kasus  diagnosis  dengan  data  dan  aturan dari hasil penelitian. Diandaikan sistem memiliki 2 aturan sebagaimana yang ditunjukkan dalam Tabel.






ID
Daftar Aturan
ID
Penyakit
Penyakit
ID
Keluhan
Gejala dan Bobot
1
IMS011
KA

K003
a. Bintil keluar 1 minggu atau beberapa bulan setelah berhubungan seks: 40
b. Bintil keluar dari kecil menjadi besar atau bintil keluar dari satu menjadi banyak:40
c. Bintil sewarna kulit atau kehitaman: 60
d. Tidak terasa sakit atau gatal: 40
e. Lokasi bintil di kulit sekitar kemaluan dan anus, dapat juga di lubang kencing:40
f. Bintil menyerupai jenggar ayam atau bunga kol: 80

2
IMS012
MK
K003
a. Lokasi bintil biasanya disekitar kemaluan : 40
b. Puncak bintil melekuk ke dalam : 40
c. Bintil berwarna seperti kulit atau agak bening : 40
d. Bintil tersebar : 40
e. Bintil satu atau banyak : 80
f. Bintil keluar beberapa hari
setelah berhubungan seks : 80
g. Tidak terasa sakit atau gatal : 40

Jika pasien memiliki keluhan “Terdapat bintil-bintil pada kemaluan”, pada sistem ditangkap id keluhan “K003”, dengan kemungkinan penyakit yang terdeteksi adalah Kandiloma Akuminiata (KA) dan Moluskum Kontagiosum (MK). Tahap tersebut menunjukkan runut maju (forward chaining).
Selanjutnya pasien memilih gejala sebagai berikut:
1. Bintil keluar 1 minggu atau beberapa bulan setelah berhubungan seks.
2. Bintil  keluar  dari  kecil  menjadi  besar  atau  bintil  keluar  dari  satu menjadi banyak.
3. Bintil menyerupai jengger ayam atau bunga kol.
4. Lokasi bintil biasanya disekitar kemaluan.
5. Puncak bintil melekuk ke dalam.
6. Bintil  keluar  beberapa  hari  atau  minggu  setelah  berhubungan seks.
7. Tidak terasa sakit atau gatal.
Tahap  ini  menggunakan  runut  balik  (backward  chaining) untuk melihat  lagi  penyakit  mana  yang  terdeteksi  dengan  nilai  kemungkinannya, ternyata  kedua  penyakit  KA  dan  MK  terdeteksi.  Kemudian  pada  tahap  ini dihitung probabilitas sebagai berikut:
Diketahui :
ΣPT (Premis Terpilih) dengan bobotnya sebagai berikut:
1. Bintil keluar 1 minggu atau beberapa bulan setelah berhubungan seks = 13
2. Bintil keluar dari kecil menjadi besar atau bintil keluar dari satu menjadi banyak = 13
3. Tidak terasa sakit atau gatal = 13
4. Bintil menyerupai jengger ayam atau bunga kol = 27
5. Lokasi bintil biasanya disekitar kemaluan = 11
6. Puncak bintil melekuk ke dalam 22
7. Bintil keluar beberapa hari atau minggu setelah berhubungan seks = 11
8. Tidak terasa sakit atau gatal = 11  
Jadi  untuk  jumlah  premis  terpilih  masing - masing  adalah:
ΣPT KA : 1, 2, 3 dan 4 = 66
ΣPT MK : 5, 6, 7 dan 8 = 55
Dimana
ΣP (jumlah bobot premis tiap aturan) yaitu:
ΣP KA = 100 dan
ΣP MK = 100
Ditanya : Kemungkinan dari penyakit yang terdeteksi?
Jawab :

Jadi, hasil diagnosa menunjukkan kemungkinan penyakit yang diderita KA sebesar 66 % dan MK sebesar 55 %. Gejala yang dialami yakni:
1. Bintil keluar 1 minggu atau beberapa bulan setelah berhubungan seks.
2. Bintil keluar dari kecil menjadi besar atau bintil keluar dari satu menjadi banyak.
3. Bintil menyerupai jengger ayam atau bunga kol.
4. Lokasi bintil biasanya disekitar kemaluan.
5. Puncak bintil melekuk ke dalam.
6. Bintil keluar beberapa hari atau minggu setelah berhubungan seks.
7. Tidak terasa sakit atau gatal.

Perancangan Proses
Flowchart Sistem

Flowchart Sistem

Diagram Konteks

Diagram Konteks

Data Flow Diagram
Data Flow Diagram Level 1

Data Flow Diagram Level 1

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Interface Halaman Konsultasi
Interface Halaman Konsultasi Tanpa Login
Halaman konsultasi login ini adalah tampilan peringatan ketika mengklik konsultasi tanpa melakukan log-in terlebih dahulu.


Interface Halaman Konsultasi Setelah Login
Interface Halaman Faktor Resiko IMS
Halaman faktor  resiko IMS ini  adalah tampilan  awal  ketika melakukan
konsultasi.Faktor  resiko  berupa  pertanyaan  kepemilikan  faktor  resiko  IMS
terhadap seseorang.



Interface Halaman Peringatan Tidak Ada Faktor Resiko IMS
Halaman peringatan untuk pasien tidak memiliki faktor resiko. Halaman ini akan tampil apabila pasien menjawab minimal 1 dan yang lain kosong atau keseluruhan pertanyaan faktor resiko dijawab tidak.


Halaman Peringatan untuk Pasien Tidak Memiliki Faktor Resiko
Interface Halaman Konsultasi Ada Faktor Resiko IMS
Halaman ini untuk konsultasi keluhan yang dimiliki pasien.Keluhan
yang terdapat ialah keluhan pada penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS).



Halaman Keluhan yang diderita Pasien

Interface Halaman Pilih Gejala
Pada halaman   ini   akan   tampil   daftar   penyakit   yang   diderita berdasarkan   inputan   pada   halaman   keluhan   sebelumnya.   Kemudian pasien   diminta   untuk   menginputkan gejala   yang   dirasakan   dengan memberi tanda cheklist(√).

Halaman Konsultasi Pasien




Interface Halaman Hasil Diagnosa
Halaman   hasil   diagnosa   menampilkan   data   pasien   dan   hasilkonsultasinya.Hasil  konsultasi  berisi  kemungkinan  penyakit  yang  diderita pasien dan gejala yang terpilih.
Hasil  diagnosa  diperoleh  dari  inputan  keluhan  dan  gejala  pada
halaman sebelumnya, dimana hasil kemungkinan prosentasi penyakit yang
terdeteksi  menggunakan  perhitungan  probabilitas  berbobot.



Halaman Hasil Diagnosa

7. Kesimpulan
Berdasarkan   hasil   pembahasan   dan pengujian   program,   maka   dapat disimpulkan bahwa Sistem Pakar Diagnosa Infeksi Menular Seksual (IMS) Berbasis Web  dengan Metode Forward  dan  Backward  Chaining  secara  garis  besar  dapat disimpulkan bahwa penelitian ini:
1 .Website sistem pakar sudah bisa diakses melalui internet  karena sudah dilakukan instalasi melalui web server online dengan url: www.infeksimenularseksual.com.
2.Telah  mampu  memberikan  informasi  kepada  pemakai  mengenai  jenis  penyakit infeksi menular seksual yang dideritanya berdasarkan keluhan dan gejala-gejala yang diberikan.
3.Aplikasi yang dibuat telah dapat membuat diagnosa penyakit dengan baik, yaitu sudah mendekati  hasil  diagnosis  yang  dibuat  seorang  dokter  penyakit  infeksi menular seksual dengan persentasi 75%.
4.Data  yang  terdapat  pada  web  sistem  pakar  ini  dapat  di  ditambah,  diubah  dan dihapus.
5.Web sistem pakar ini hanya membahas 4 faktor resiko, 3 keluhan, 65 gejala dan 12 jenis penyakit infeksi menular seksual.

8. Daftar Pustaka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Negara Dan Warga Negara Secara Umum Dan Menurut Para Ahli.

Bahasa Inggris Bisnis 2